TEORI PENYIMPANGAN TINGKAH LAKU
Psikologi sosial
sebagai sub disiplin dari ilmu psikologi, secara khusus memperhatikan tingkah
laku individu sebagaimana ia merespon terhadap pengaruh-pengaruh sosial. baik
sosiologi maupun psikologi sosial memperhatikan perilaku manusia dalam
kelompok, tapi fokus perhatiannya adalah berbeda.
A. Pengertian
perilaku menyimpang
Norma sosial dapat didefinisikan sebagai suatu standar
atau skala yang terdiri dari berbagai kategori tingkah laku serta sikap yang
tergolong dapat diterima atau ditolak oleh seorang anggota atau sejumlah
anggota dari suatu kelompok sosial. sikap serta tingkah laku ini terutama
menyangkut hal-hal yang bermakna bagi kelompok sosial yang bersangkutan
Konsekuensi dari adanya aturan-aturan normatif ini adalah
bahwa dalam interaksi anggota kelompok dapat dievaluasi tingkah laku konform
terhadap aturan-aturan normatif, atau sebagai perilaku menyimpang dari aturan-aturan
normatif yang berlaku (deviant behavior).
Sedangkan yang digolongkan sebagai perilaku menyimpang dapat berupa
perbuatan-perbuatan yang non-konform,yang asosial, anti sosial maupun kriminal.
Oleh ahli ilmu-ilmu sosial antara lain Cohen (1973) telah
mengemukakan berbagai definisi yang menyangkut perilaku menyimpang.
Definisi-definisi tersebut antara lain :
a.
Tingkah
laku yang menyimpang dari aturan-aturan normatif atau dari
pengharapan-pengharapan masyarakat.
b.
Tingkah
laku yang secara statistik abnormal
c.
Tingkah
laku yang patologis
d.
Tingkah
laku yang secara sosial dinilai tidak baik dan tingkah laku yang berhubungan
dengan peranan menyimpang (deviant role).
Suatu ciri umum mengenai perilaku menyimpang adalah bahwa
tergantung dari perasaan seseorang mengenai perilaku menyimpang tertentu maka
timbul pula reaksi emosionil tertentu seperti rasa terancam, rasa takut, rasa
mual dan sebagainya. Reaksi-reaksi emosionil yang negatif tersebut bisa
merupakan reaksi individual, bisa pula menjelma sebagai reaksi kolektif.
Jadi perilaku menyimpang adalah tingkah laku yang
melanggar atau bertentangan atau menyimpang dari aturan-aturan normatif maupun
dari harapan-harapan lingkungan sosial yang bersangkutan (Cohen, 1969).
Penyebab terjadinya penyimpangan dibagi menjadi dua,
yaitu sebagai berikut :
1.
Faktor
subjektif adalah faktor yang berasal
dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan sejak lahir).
2.
Faktor
objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan
rumah tangga, seperti hubungan antara orangtua dan anak yang tidak serasi.
Bentuk-bentuk perilaku menyimpang berdasarkan sifatnya
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1.
Penyimpangan
bersifat positif. Penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan yang
mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial karena mengandung unsure-unsur
inovatif, kreatif, dan memperkaya wawasan seseorang.
2.
Penyimpangan
yang bersifat negatif. Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan yang
bertindak kearah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu
mengakibatkan hal yang buruk. Bobot penyimpangan negatif didasarkan pada kaidah
sosial yang dilanggar. Pelanggaran terhadap kaidah susila dan adat istiadat
pada umumnya dinilai lebih berat daripada pelanggaran terhadap tata cara dan
sopan santun.
B. Teori
mengenai penyimpangan tingkah laku
1. Teori
kognitif
Teori ini
dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun
1896-1980.Teori kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kemampuan kognitif
merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak.
Dengan kemampuan kognitif ini maka anak dipandang sebagai individu yang secara
aktif membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia.
Teori ini membahas
munculnya dan diperolehnya schemata yaitu skema tentang bagaimana seseorang
mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang
memperoleh cara-cara baru dalam mempresentasikan
informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme. Teori
ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan
yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Piaget membagi skema
yang digunakan anak untuk memahami duniannya melalui empat periode utama yang
berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia :
-
Periode
sensorimotor (usia 0-20 tahun)
-
Periode
praoperasional (usia 2-7 tahun)
-
Periode
operasional konkrit (usia 7-11 tahun)
-
Periode
operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Perkembangan
kognitif merupakan salah satu perkembangan manusia yang berkaitan dengan
pengetahuan, yakni semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana
individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Menurut Drever (Kuper dan Kuper, 2000) disebutkan bahwa
“kognisi adalah istilah umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni
persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian, dan penalaran”.
Sedangkan menurut
Piaget (Hetherington dan Parke, 1975), menyebutkan bahwa “kognitif adalah
bagaimana anak beradapatsi dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian
disekitarnya”. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif di dalam
menyusun pengetahuannya mengenai realitas, anak tidak pasif menerima informasi.
Selanjutnya walaupun proses berpikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah
dimodifikasi oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga aktif
menginterpretasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam
mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi.
Menurut Chaplin
(2000) dikatakan bahwa “kognisi adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk
mengenal, membayangkan, memperkirakan, menduga, dan menilai”.
Dari berbagai
pengertian yang telah disebutkan di atas dapat dipahami bahwa kognitif adalah
sebuah istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua aktivitas
mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan
informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan
masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang
berkaitan dengan bagaiman individu mempelajari, memperhatikan, membayangkan,
memperkirakan, menilai, dan memikirkan lingkungannya.
2. Teori
Behavioristik
Kaum behavioris menjelaskan
bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement
dan funishment menjadi stimulus untuk merangsang seseorang dalam berperilaku.
Dengan model
stimulus-respon, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.
Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau
pembiasan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila deberikan penguatan
dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Faktor lain yang
dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor pemguatan
(reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positif reinforcement) maka respon
akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi atau dihilangkan (negatif
reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Ringkasnya, kaum
behavioris menjelaskan semua tingkah laku abnormal dan kekacauan mental itu
timbul dari proses pengkondisian, dan tidak menjelaskannya dari pengertian
fiksasi atau motif-motif tidak sadar
3. Teori
psikodinamika
Model-model
psikodinamika pada awalnya dikembangkan oleh Sigmund Freud (1974). Dikatakan
psikodinamik, karena teori ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku berasal
dari gerakan dan interaksi dalam pikiran manusia, kemudian pikiran merangsang
perilaku dan keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan
sosialnya.
Menurut teori
psikoanalisa sumber dari semua gangguan mental itu terletak dalam individu
sendiri; yaitu berupa pertempuran batin, antara dorongan-dorongan infantil
melawan pertimbangan yang matang dan rasional. Berkaitan dengan ini,
simptom-simptom lahirlah dalam bentuk tingkah laku abnormal dan menyimpang
(gangguan mental) itu merupakan bentuk permukaan dari gangguan-gangguan
intraspikis yang serius. Simptom-simptom yang tampak dari luar itu cuma tanda
lahiriah dari kekalutan mental yang sifatnya jahat meresap, sangat mendalam
pada kepribadian individu.
Teori psikodinamika
menganalisis prasangka sebagai hasil perkembangan dari ketegangan motivasional
dari dalam diri individu. Prasangka menguntungkan secara psikologis karena
meningkatkan perasaan superioritas (Myers, 1999). Sebagaimana yang sering kita
rasakan tapi jarang atau malah tidak pernah kita ungkapkan, kita sering
merasakan kepuasan bila mengetahui ada orang lain mengalami kegagalan. Hal ini
merupakan cermin dari adanya tuntutan untuk merasakan superioritas atas orang
lain.
Dan prasangka berfungsi membantu memenuhi kebutuhan itu. Maka menjadi mudah
dimengerti mengapa prasangka tumbuh lebih subur pada masyarakat yang kondisi
sosial ekonominya rendah serta berada dibawah ancaman seperti kelompok
minoritas, hal itu karena mereka memilki kebutuhan untuk menjadi superior yang
lebih tinggi sebagai kompensasi atas keadaan mereka yang inferior.
Teori psikodinamika mencakup teori
frustasi-agresi yang menyebutkan prasangka sebagai hasil dari agresi yang
dialihkan (displacement). Displacement adalah kecendrungan untuk mengarahkan
kekejaman secara langsung kepada target yang tidak dapat secara nyata
ditunjukkan sebagai sumber kesulitan. Artinya seseorang tidak dapat membuktikan
bahwa seseorang atau kelompok orang merupakan sumber dari kesulitan yang
dideritanya. Akan tetapi ia merasa bahwa merekalah sumber kesulitan yang
dideritanya. Sebagai kompensasi karena ia tidak bisa melakukan tindakan apa-apa
terhadap sumber kesulitan maka ia memunculkan prasangka.
SUMBER BACAAN
Erianjoni.2003. Buku
Ajar Perilaku Menyimpang
Kartono,Kartini.2003. Patologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar