Jumat, 25 Januari 2013

teori penyimpangan tingkah laku



TEORI PENYIMPANGAN TINGKAH LAKU

Psikologi sosial sebagai sub disiplin dari ilmu psikologi, secara khusus memperhatikan tingkah laku individu sebagaimana ia merespon terhadap pengaruh-pengaruh sosial. baik sosiologi maupun psikologi sosial memperhatikan perilaku manusia dalam kelompok, tapi fokus perhatiannya adalah berbeda.
A.    Pengertian perilaku menyimpang
Norma sosial dapat didefinisikan sebagai suatu standar atau skala yang terdiri dari berbagai kategori tingkah laku serta sikap yang tergolong dapat diterima atau ditolak oleh seorang anggota atau sejumlah anggota dari suatu kelompok sosial. sikap serta tingkah laku ini terutama menyangkut hal-hal yang bermakna bagi kelompok sosial yang bersangkutan
Konsekuensi dari adanya aturan-aturan normatif ini adalah bahwa dalam interaksi anggota kelompok dapat dievaluasi tingkah laku konform terhadap aturan-aturan normatif, atau sebagai perilaku menyimpang dari aturan-aturan normatif yang berlaku (deviant behavior). Sedangkan yang digolongkan sebagai perilaku menyimpang dapat berupa perbuatan-perbuatan yang non-konform,yang asosial, anti sosial maupun kriminal.
Oleh ahli ilmu-ilmu sosial antara lain Cohen (1973) telah mengemukakan berbagai definisi yang menyangkut perilaku menyimpang. Definisi-definisi tersebut antara lain :
a.       Tingkah laku yang menyimpang dari aturan-aturan normatif atau dari pengharapan-pengharapan masyarakat.
b.      Tingkah laku yang secara statistik abnormal
c.       Tingkah laku yang patologis
d.      Tingkah laku yang secara sosial dinilai tidak baik dan tingkah laku yang berhubungan dengan peranan menyimpang (deviant role). 

Suatu ciri umum mengenai perilaku menyimpang adalah bahwa tergantung dari perasaan seseorang mengenai perilaku menyimpang tertentu maka timbul pula reaksi emosionil tertentu seperti rasa terancam, rasa takut, rasa mual dan sebagainya. Reaksi-reaksi emosionil yang negatif tersebut bisa merupakan reaksi individual, bisa pula menjelma sebagai reaksi kolektif.
Jadi perilaku menyimpang adalah tingkah laku yang melanggar atau bertentangan atau menyimpang dari aturan-aturan normatif maupun dari harapan-harapan lingkungan sosial yang bersangkutan (Cohen, 1969).
Penyebab terjadinya penyimpangan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1.      Faktor subjektif  adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan sejak lahir).
2.      Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orangtua dan anak yang tidak serasi.
Bentuk-bentuk perilaku menyimpang berdasarkan sifatnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1.      Penyimpangan bersifat positif. Penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial karena mengandung unsure-unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya wawasan seseorang.
2.      Penyimpangan yang bersifat negatif. Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan yang bertindak kearah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu mengakibatkan hal yang buruk. Bobot penyimpangan negatif didasarkan pada kaidah sosial yang dilanggar. Pelanggaran terhadap kaidah susila dan adat istiadat pada umumnya dinilai lebih berat daripada pelanggaran terhadap tata cara dan sopan santun.

B.     Teori mengenai penyimpangan tingkah laku
1.      Teori kognitif
Teori ini dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980.Teori kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kemampuan kognitif merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Dengan kemampuan kognitif ini maka anak dipandang sebagai individu yang secara aktif membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia.
Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata yaitu skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara-cara baru  dalam mempresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme. Teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami duniannya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia :
-          Periode sensorimotor (usia 0-20 tahun)
-          Periode praoperasional (usia 2-7 tahun)
-          Periode operasional konkrit (usia 7-11 tahun)
-          Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Perkembangan kognitif merupakan salah satu perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengetahuan, yakni semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Menurut Drever  (Kuper dan Kuper, 2000) disebutkan bahwa “kognisi adalah istilah umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian, dan penalaran”.
Sedangkan menurut Piaget (Hetherington dan Parke, 1975), menyebutkan bahwa “kognitif adalah bagaimana anak beradapatsi dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian disekitarnya”. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif di dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas, anak tidak pasif menerima informasi. Selanjutnya walaupun proses berpikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga aktif menginterpretasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi.
Menurut Chaplin (2000) dikatakan bahwa “kognisi adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk mengenal, membayangkan, memperkirakan, menduga, dan menilai”.
Dari berbagai pengertian yang telah disebutkan di atas dapat dipahami bahwa kognitif adalah sebuah istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaiman individu mempelajari, memperhatikan, membayangkan, memperkirakan, menilai, dan memikirkan lingkungannya.
2.      Teori Behavioristik
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan funishment menjadi stimulus untuk merangsang seseorang dalam berperilaku.
Dengan model stimulus-respon, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila deberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor pemguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positif reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi atau dihilangkan (negatif reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Ringkasnya, kaum behavioris menjelaskan semua tingkah laku abnormal dan kekacauan mental itu timbul dari proses pengkondisian, dan tidak menjelaskannya dari pengertian fiksasi atau motif-motif tidak sadar
3.      Teori psikodinamika
Model-model psikodinamika pada awalnya dikembangkan oleh Sigmund Freud (1974). Dikatakan psikodinamik, karena teori ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku berasal dari gerakan dan interaksi dalam pikiran manusia, kemudian pikiran merangsang perilaku dan keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.
Menurut teori psikoanalisa sumber dari semua gangguan mental itu terletak dalam individu sendiri; yaitu berupa pertempuran batin, antara dorongan-dorongan infantil melawan pertimbangan yang matang dan rasional. Berkaitan dengan ini, simptom-simptom lahirlah dalam bentuk tingkah laku abnormal dan menyimpang (gangguan mental) itu merupakan bentuk permukaan dari gangguan-gangguan intraspikis yang serius. Simptom-simptom yang tampak dari luar itu cuma tanda lahiriah dari kekalutan mental yang sifatnya jahat meresap, sangat mendalam pada kepribadian individu.
Teori psikodinamika menganalisis prasangka sebagai hasil perkembangan dari ketegangan motivasional dari dalam diri individu. Prasangka menguntungkan secara psikologis karena meningkatkan perasaan superioritas (Myers, 1999). Sebagaimana yang sering kita rasakan tapi jarang atau malah tidak pernah kita ungkapkan, kita sering merasakan kepuasan bila mengetahui ada orang lain mengalami kegagalan. Hal ini merupakan cermin dari adanya tuntutan untuk merasakan superioritas atas orang lain. Dan prasangka berfungsi membantu memenuhi kebutuhan itu. Maka menjadi mudah dimengerti mengapa prasangka tumbuh lebih subur pada masyarakat yang kondisi sosial ekonominya rendah serta berada dibawah ancaman seperti kelompok minoritas, hal itu karena mereka memilki kebutuhan untuk menjadi superior yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas keadaan mereka yang inferior.
Teori psikodinamika mencakup teori frustasi-agresi yang menyebutkan prasangka sebagai hasil dari agresi yang dialihkan (displacement). Displacement adalah kecendrungan untuk mengarahkan kekejaman secara langsung kepada target yang tidak dapat secara nyata ditunjukkan sebagai sumber kesulitan. Artinya seseorang tidak dapat membuktikan bahwa seseorang atau kelompok orang merupakan sumber dari kesulitan yang dideritanya. Akan tetapi ia merasa bahwa merekalah sumber kesulitan yang dideritanya. Sebagai kompensasi karena ia tidak bisa melakukan tindakan apa-apa terhadap sumber kesulitan maka ia memunculkan prasangka.



SUMBER BACAAN

Erianjoni.2003. Buku Ajar Perilaku Menyimpang
Kartono,Kartini.2003. Patologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada


Tidak ada komentar:

Posting Komentar