PENELITIAN SEDERHANA
MATA KULIAH PERILAKU MENYIMPANG
MAHASISWA “BISPAK” SEBAGAI WANITA PANGGILAN
(Studi kasus: Perilaku mahasiswa bispak di Kota Padang)
A.
Latar Belakang Masalah
Fenomena wanita penjaja seks
sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan fenomena ini juga menyentuh
institusi pendidikan seperti sekolah menengah dan universitas, inilah
yang disebut dengan mahasiswa bisa pakai (bispak). Perbuatan penyimpangan seksual
ini yang terjadi di institusi pendidikan
yang kemudian muncul dan menjadi pelengkap fenomena wanita penjaja seks.Hal ini terkadang dianggap sangat tabu di
masyarakat, mengingat negara kita adalah negara dengan adat ketimuran dan
memiliki norma– norma yang sangat kental di masyarakat. Akan tetapi kita masih
sering melihat fenomena ini terjadi di masyarakat, seolah-olah telah terjadi
pergeseran nilai sehingga hal tersebut dianggap sebagai hal yang biasa.
Dalam sosiologi, fenomena ini dianggap sebagai suatu perilaku
menyimpang. Perilaku
mahasiswa bispak merupakan suatu pelanggaran atau penyimpangan
karena hasil dari proses interaksi sosial yang kompleks, dan pandangan nilai-nilai
yang dianut dalam masyarakat tidak
sesuai dengan realitas sosial. Perilaku mahasiswa bispak yang biasa juga
disebut sebagai ayam kampus menunjukkan perilau seorang mahasiswa yang sangat
tidak sesuai dengan nilai yang diharapkan oleh orang banyak. Dalam sistem
masyarakat tradisional, yang mana hukum adat dan norma sangat mempengaruhi
kehidupan mereka, perilaku ini dianggap sebagai aib yang sangat memalukan.
Berdasarkan konsep di atas,
sudah jelas bahwa fenomena ini merupakan suatu hal yang dilarang. Menyadari
permasalahan ini, dalam penelitian kecil-kecilan ini penelitu mengkaji lebih dalam tentang fenomena mahasiswa bispak dari kaca
mata sosiologis. Fokus permasalahan
yang akan diteliti adalah perilaku
mahasiswa bispak sebagai wanita panggilan dan apakah motivasi yang
mendorong mereka melakukan penyimpangan tersebut.
B. Gambaran Penyimpangan
Mahasiswa bispak atau yang lebih sering disebut ayam kampus adalah
sebutan bagi wanita yang menjajakan seks yang masih memiliki status sebagai
mahasiswi. Berbeda dengan PSK yang memang menjadikan kegiatan tersebut sebagai
satu-satunya profesi, ayam kampus lebih menganggap kegiatan tersebut sebagai
kegiatan sampingan. Dalam menjalani harinya, ayam kampus ini sama dengan
mahasiswi umumnya, kuliah dari pagi sampai sore hari. Akan tetapi, malam
harinya, mereka mulai menjajakan tubuh pada lelaki hidung belang. Kebanyakan
dari ayam kampus biasanya hanya memilih laki-laki yang sesuai dengan
kriteriannya, dan biasanya harga seorang ayam kampus lebih mahal dari seorang
PSK.
Keberadaan ayam kampus sangat terselubung, karena berdasarkan pernyataan
dari informan yaitu RI (21 tahun) menyatakan bahwa :
“ kalian janji
ngga bocorin identitas aku, karena aku ini masih mahasiswa di … (sebuah
universitas di Padang yang tidak boleh disebutkan berdasarkan permintaan RI)
jadi aku kan masih terikat aturan yang ada dikampus aku, bisa-bisa aku di druop
out kalo ada dosen aku yang tau.”[1]
Berdasarkan
penuturan dari informan hal ini berarti mahasiswa yang bekerja sebagai bispak
atau ayam kampus terselubung keberadaannya. Mereka menjadi wanita panggilan
tidak dengan cara menjajakan diri terang-terangan sebagai wanita panggilan
seperti PSK, namun untuk mengetahui keberadaan mereka biasanya ada
distributornya. Hal ini berdasarkan pernyataan dari RI bahwa :
“ya aku kan
punya mami, jadi kalo ada yang mau make aku hubungi aja mami aku tinggal
telepon aja, kan mudah tuh, tapi aku nggak mau kalo di kampus memperlihatkan
aslinya aku, mungkin diantara teman-teman ada yang tau kalo aku kayak gini,
tapi aku rasa itu hanya sebagian, tapi ya mau gimana lagi ini toh kerjaan aku,
lagian ini kan hidup aku jadi ngapain juga yang lain sibuk ngurusin aku, hidup
hidup aku emang dia yang bayarin kuliah aku, ngga kan.”
Mahasiswa bispak
merupakan salah satu gambaran penyimpangan seksual di kalanagan mahasiswa di
sebuah universitas, termasuk terdapat di beberapa universitas di kota Padang.
Penyimpangan ini terjadi karena beberapa hal,
menurut pengamatan peneliti
berdasarkan observasi yang dilakukan terhadap mahasiswa bispak motivasi yang
menyebabkan mereka melakukan penyimpangan seksual ini adalah pertama karena
faktor ekonomi, keluarga, gaya hidup, dan teman. Hal ini berdasarkan juga
seperti yang diungkapkan oleh RI, bahwa :
“saya melakukan
ini karena kebutuhan ekonomi saya yang kayak gini, trus saya kan juga butuh
biaya-biaya lain, nggak mungkin kan tampilan aku ndeso, kalo gitu nggak laku
aku lah.”
Selain itu
berdasarkan wawancara dengan teman dekat dari RI tapi dia bukan seorang bispak
yang bernama SA mengatakan bahwa “
“RI pertama
kali jadi wanita panggilan pertama kalinya diajarin ma kakaknya sendiri,
kakaknya aja juga gitu, selain itu pertama kalinya ia kayak gini karena
kakaknya mau wisuda trus mamanya ngga punya duit buat biayanya, jadi terpaksa
pertama kali ia menjadi wanita panggilan. Tapi ia siang tetap kuliah kok, Cuma
malamnya aja dia agak nyeleweng”
Jadi berdasarkan
pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi atau penyebab mahasiswa
bispak melakukan penyimpangan seksual ini adalah karena beberapa faktor, yaitu
:
1.
Kondisi ekonomi keluarga
2.
Kurangnya pengawasan dari orang tua
3.
Lingkungan
4.
Teman
5.
Gaya hidup
C. Analisa Teori
Penyimpangan yang
diteliti adalah tentang mahasiswa bispak sebagai wanita panggilan. Penyimpangan
tersebut termasuk kedalam penyimpangan seksual yang dapat dianalisa dengan menggunakan
teori pengendalian (control theory).
Menurut Walter Reckless di dalam diri manusia terdapat dua jenis pengendalian yaitu:
1. Pengendalian Batin (inner control)
Pengendalian batin
ini meliputi moral, agama, hati, nurani, etika, dan iman. Berdasarkan kasus
tentang mahasiswa bispak yang menjadi wanita panggilan jika dianalisa
menggunakan pengendalian diri. Dapat disimpulkan bahwa jika di dalam diri
mahasiswa tersebut terdapat iman yang kuat dan moral yang baik, maka akan
menyadari bahwa perilaku tersebut adalah salah dan bertentangan dengan
nilai-nilai agama dan juga nilai yang dianut dalam masyarakat. Namun karena
tidak mempunyai pertahanan batin yang kuat menyebabkan mahasiswa terlibat dalam
penyimpangan ini.
2. Pengendalian luar (external control)
Pengendalian luar
ini meliputi keluarga, teman, polisi, satpol-PP, dan lain-lain. Berdasarkan
kasus mahasiswa bispak ini pengendalian luar yang dapat mengontrol perilaku
mahasiswa ini adalah terutama keluarga yang dapat mengontrol perilaku anak,
kontrol dari keluarga sangatlah penting bagi perilaku seorang anak. Karena kontrol
keluarga dapat mencegah terjadinya berbagai perilaku menyimpang termasuk juga
penyimpangan seksual.
Selain itu
pengendalian sebuah institusi seperti institusi polisi, Satpol-PP juga terlibat
dalam mengontrol berbagai penyimpangan. Jika terdapat razia di hotel-hotel
ataupun di tempat wisata seperti di pantai, taman akan mengurangi terjadinya
penyimpangan seksual.
D. Kontrol Sosial
Kontrol sosial
adalah cara atau upaya yang dilakukan baik oleh individu maupun kelompok untuk
m maupun mengatasi sebuah penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat. adapau
kontrol sosial yang dapat digunakan untuk mengatasi kasus penyimpangan seksual
mahasiswa bispak atau yang disebut sebagai ayam kampus adalah :
1) Pengawasan Keluarga
Pengawasan keluarga
sangatlah penting peranannya, karena kurangnya pengawasan orang tua dapat
menyebabkan berbagai perilaku menyimpang yang dilakukan seorang anak, termasuk
penyimpangan seksual yang dilakukan pra nikah yang melanggar nilai yang berlaku
dalam masyarakat.
2) Sosialisasi Kesehatan
Sosialisasi
kesehatan sebenarnya tergolong ke dalam sex
education. Pendidikan seks yang baik bagi seorang anak akan menambah
pengetahuan anak tentang sisi negatif seks di luar nikah dengan gonta ganti
pasangan.
3) Keterlibatan Institusi
Keterlibatan
institusi seperti polisi, razia yang dilakukan oleh polisi seperti di
tempat-tempat yang rawan terjadi penyimpangan seksual, misalnya di tepi pantai
dan di hotel-hotel. Razia yang dilakukan polisi ini bertujuan untuk mengatasi
terjadinya perilaku penyimpangan seksual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar