Jumat, 25 Januari 2013

penelitian sederhana perilaku menyimpang


PENELITIAN SEDERHANA
MATA KULIAH PERILAKU MENYIMPANG
 MAHASISWA “BISPAK” SEBAGAI WANITA PANGGILAN
(Studi kasus: Perilaku mahasiswa bispak di Kota Padang)
A.    Latar Belakang Masalah
Fenomena wanita penjaja seks sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan fenomena ini juga menyentuh institusi pendidikan seperti sekolah menengah dan universitas, inilah yang disebut dengan mahasiswa bisa pakai (bispak). Perbuatan penyimpangan seksual ini yang terjadi di institusi pendidikan  yang kemudian muncul dan menjadi pelengkap fenomena wanita penjaja seks.Hal ini terkadang dianggap sangat tabu di masyarakat, mengingat negara kita adalah negara dengan adat ketimuran dan memiliki norma– norma yang sangat kental di masyarakat. Akan tetapi kita masih sering melihat fenomena ini terjadi di masyarakat, seolah-olah telah terjadi pergeseran nilai sehingga hal tersebut dianggap sebagai hal yang biasa.         
Dalam sosiologi, fenomena ini dianggap sebagai suatu perilaku menyimpang. Perilaku mahasiswa bispak merupakan suatu pelanggaran atau penyimpangan karena hasil dari proses interaksi sosial yang kompleks, dan pandangan nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat tidak sesuai dengan realitas sosial. Perilaku mahasiswa bispak yang biasa juga disebut sebagai ayam kampus menunjukkan perilau seorang mahasiswa yang sangat tidak sesuai dengan nilai yang diharapkan oleh orang banyak. Dalam sistem masyarakat tradisional, yang mana hukum adat dan norma sangat mempengaruhi kehidupan mereka, perilaku ini dianggap sebagai aib yang sangat memalukan.
Berdasarkan konsep di atas, sudah jelas bahwa fenomena ini merupakan suatu hal yang dilarang. Menyadari permasalahan ini, dalam penelitian kecil-kecilan ini penelitu mengkaji lebih dalam tentang fenomena mahasiswa bispak dari kaca mata sosiologis. Fokus permasalahan yang akan diteliti adalah perilaku mahasiswa bispak sebagai wanita panggilan dan apakah motivasi yang mendorong mereka melakukan penyimpangan tersebut.
B.     Gambaran Penyimpangan
Mahasiswa bispak atau yang lebih sering disebut ayam kampus adalah sebutan bagi wanita yang menjajakan seks yang masih memiliki status sebagai mahasiswi. Berbeda dengan PSK yang memang menjadikan kegiatan tersebut sebagai satu-satunya profesi, ayam kampus lebih menganggap kegiatan tersebut sebagai kegiatan sampingan. Dalam menjalani harinya, ayam kampus ini sama dengan mahasiswi umumnya, kuliah dari pagi sampai sore hari. Akan tetapi, malam harinya, mereka mulai menjajakan tubuh pada lelaki hidung belang. Kebanyakan dari ayam kampus biasanya hanya memilih laki-laki yang sesuai dengan kriteriannya, dan biasanya harga seorang ayam kampus lebih mahal dari seorang PSK.
Keberadaan ayam kampus sangat terselubung, karena berdasarkan pernyataan dari informan yaitu RI (21 tahun) menyatakan bahwa :
kalian janji ngga bocorin identitas aku, karena aku ini masih mahasiswa di … (sebuah universitas di Padang yang tidak boleh disebutkan berdasarkan permintaan RI) jadi aku kan masih terikat aturan yang ada dikampus aku, bisa-bisa aku di druop out kalo ada dosen aku yang tau.[1]
Berdasarkan penuturan dari informan hal ini berarti mahasiswa yang bekerja sebagai bispak atau ayam kampus terselubung keberadaannya. Mereka menjadi wanita panggilan tidak dengan cara menjajakan diri terang-terangan sebagai wanita panggilan seperti PSK, namun untuk mengetahui keberadaan mereka biasanya ada distributornya. Hal ini berdasarkan pernyataan dari RI bahwa :
“ya aku kan punya mami, jadi kalo ada yang mau make aku hubungi aja mami aku tinggal telepon aja, kan mudah tuh, tapi aku nggak mau kalo di kampus memperlihatkan aslinya aku, mungkin diantara teman-teman ada yang tau kalo aku kayak gini, tapi aku rasa itu hanya sebagian, tapi ya mau gimana lagi ini toh kerjaan aku, lagian ini kan hidup aku jadi ngapain juga yang lain sibuk ngurusin aku, hidup hidup aku emang dia yang bayarin kuliah aku, ngga kan.”
Mahasiswa bispak merupakan salah satu gambaran penyimpangan seksual di kalanagan mahasiswa di sebuah universitas, termasuk terdapat di beberapa universitas di kota Padang. Penyimpangan ini terjadi karena beberapa hal,  menurut pengamatan  peneliti berdasarkan observasi yang dilakukan terhadap mahasiswa bispak motivasi yang menyebabkan mereka melakukan penyimpangan seksual ini adalah pertama karena faktor ekonomi, keluarga, gaya hidup, dan teman. Hal ini berdasarkan juga seperti yang diungkapkan oleh RI, bahwa :
“saya melakukan ini karena kebutuhan ekonomi saya yang kayak gini, trus saya kan juga butuh biaya-biaya lain, nggak mungkin kan tampilan aku ndeso, kalo gitu nggak laku aku lah.”
Selain itu berdasarkan wawancara dengan teman dekat dari RI tapi dia bukan seorang bispak yang bernama SA mengatakan bahwa “
“RI pertama kali jadi wanita panggilan pertama kalinya diajarin ma kakaknya sendiri, kakaknya aja juga gitu, selain itu pertama kalinya ia kayak gini karena kakaknya mau wisuda trus mamanya ngga punya duit buat biayanya, jadi terpaksa pertama kali ia menjadi wanita panggilan. Tapi ia siang tetap kuliah kok, Cuma malamnya aja dia agak nyeleweng”

Jadi berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi atau penyebab mahasiswa bispak melakukan penyimpangan seksual ini adalah karena beberapa faktor, yaitu :
1.      Kondisi ekonomi keluarga
2.      Kurangnya pengawasan dari orang tua
3.      Lingkungan
4.      Teman
5.      Gaya hidup
C.    Analisa Teori
Penyimpangan yang diteliti adalah tentang mahasiswa bispak sebagai wanita panggilan. Penyimpangan tersebut termasuk kedalam penyimpangan seksual yang dapat dianalisa dengan menggunakan teori pengendalian (control theory). Menurut Walter Reckless di dalam diri manusia terdapat dua jenis pengendalian yaitu:
1.      Pengendalian Batin (inner control)
Pengendalian batin ini meliputi moral, agama, hati, nurani, etika, dan iman. Berdasarkan kasus tentang mahasiswa bispak yang menjadi wanita panggilan jika dianalisa menggunakan pengendalian diri. Dapat disimpulkan bahwa jika di dalam diri mahasiswa tersebut terdapat iman yang kuat dan moral yang baik, maka akan menyadari bahwa perilaku tersebut adalah salah dan bertentangan dengan nilai-nilai agama dan juga nilai yang dianut dalam masyarakat. Namun karena tidak mempunyai pertahanan batin yang kuat menyebabkan mahasiswa terlibat dalam penyimpangan ini.

2.      Pengendalian luar (external control)
Pengendalian luar ini meliputi keluarga, teman, polisi, satpol-PP, dan lain-lain. Berdasarkan kasus mahasiswa bispak ini pengendalian luar yang dapat mengontrol perilaku mahasiswa ini adalah terutama keluarga yang dapat mengontrol perilaku anak, kontrol dari keluarga sangatlah penting bagi perilaku seorang anak. Karena kontrol keluarga dapat mencegah terjadinya berbagai perilaku menyimpang termasuk juga penyimpangan seksual.
Selain itu pengendalian sebuah institusi seperti institusi polisi, Satpol-PP juga terlibat dalam mengontrol berbagai penyimpangan. Jika terdapat razia di hotel-hotel ataupun di tempat wisata seperti di pantai, taman akan mengurangi terjadinya penyimpangan seksual.
D.    Kontrol Sosial
Kontrol sosial adalah cara atau upaya yang dilakukan baik oleh individu maupun kelompok untuk m maupun mengatasi sebuah penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat. adapau kontrol sosial yang dapat digunakan untuk mengatasi kasus penyimpangan seksual mahasiswa bispak atau yang disebut sebagai ayam kampus adalah :
1)      Pengawasan Keluarga
Pengawasan keluarga sangatlah penting peranannya, karena kurangnya pengawasan orang tua dapat menyebabkan berbagai perilaku menyimpang yang dilakukan seorang anak, termasuk penyimpangan seksual yang dilakukan pra nikah yang melanggar nilai yang berlaku dalam masyarakat.

2)      Sosialisasi Kesehatan
Sosialisasi kesehatan sebenarnya tergolong ke dalam sex education. Pendidikan seks yang baik bagi seorang anak akan menambah pengetahuan anak tentang sisi negatif seks di luar nikah dengan gonta ganti pasangan.
3)      Keterlibatan Institusi
Keterlibatan institusi seperti polisi, razia yang dilakukan oleh polisi seperti di tempat-tempat yang rawan terjadi penyimpangan seksual, misalnya di tepi pantai dan di hotel-hotel. Razia yang dilakukan polisi ini bertujuan untuk mengatasi terjadinya perilaku penyimpangan seksual.


[1] Wawancara dengan RI sebagai mahasiswa bispak pada tanggal 25 November 2011 pukul 03.10 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar